My Stories...

All about my stories.

Education...

Learn an shares.

Entertaiment

Music, Movie, Life Style and more.

Saturday, May 11, 2019

Hari ke-10

Di hari ke sepuluh. 

Hanif lbh bisa menahan diri untuk membeli mainan ketika bersama saya. Lain cerita ketika bersama pengasuhnya. 
Karena rumah pengasuhnya yang berada tepat di pinggir jalan, maka jumlah pedagang makanan tidak sedikit yang berlalu lalang. 
Hal ini masih menjadi PR besar untuk saya dan ayahnya
 

Sambil pelan-pelan mengajarkan hanif agar belajar konsisten.. aku pun berusaha terus menerus menanyakan apakah yang dia mau memang dia perlukan ataupun bukan. 

Selain itu, saya pun lebih banyak lagi menyimpanan stok makanan yang dia suka.. agar tidak bolak balik warung. Ataupun memberhentikan pedangan makanan seenaknyaaa. 
Akupun bisa lbh menahan hasrat belanja yang tidak perlu. 
Begitupun dengan ayahnya. 
Dengan tau jelas berapa uang yang disimpan dan bisa dibelikan, kita tau caranya mengerem "impulsif" dalam berbelanja.

Hari ke-9

Apa kabar penggunaan toples 3S?

Aduh. Kami masih blm tertib niiih. Hehehe.
Uangnya ya masih nyebar dimana aja gtuu..

Akupun mencoba merapikan lagi, sekaligus memeriksa saldo bulanan kami.
Ternyata bisa lebih hemat dari bulan sebelumnyaaa. Alhamdulillah.

Stlh ditelusuri, memang faktor makan dan jajan yang bikin kami ga peduli isi dompet. Huhu.

Tp setidaknya, kami tau apa yang harus diperbaiki.

Hari ke-8

Konsep berbagi kembali saya ajarkan. Kali ini saya pilah baju mana yang sudah tidak hanif pakai.

Saat proses memilah dan memilih, aaya coba libatkan hanif. Saya tanya, apakah dia masih mau pakai bajunya atau tidak. Dan jawabannya didominasi oleh kata "iya" alias semuanya punya hanif. Hehe.

Saya coba jelaskan kalau ada sebagian bajunya yang sudah kecil, tp masih layak pakai, sebaiknya diberikan pada orang lain.

Mendengar penjelasan itu, dia cuma diam.
Lalu saya pun kembali menunjukkan baju2nya yang sudah sempit. Dan saya tanya lagi boleh tidak diberikan..

Dia lagi-lagi hanya diam.

Hehe.
Mgkn dia belum rela.
Lalu aku sudahi dl saja, saya pisahkan di bagian lain di lemarinya.

Belajar perlu proses. Semangaaat..

Hari ke-7

Kali ini pelajaran yang didapat adalah konsep berbagi. Meski hanif adalah anak sematawayang kami, tapi dia sudah sedikit demi sedikit paham konsep berbagi. Kami tinggal berdempetan dengan saudara yang punya anak tidak jauh dari usia hanif.

Berebut mainan, bertengkar, berbaikan, dan saling berbagi adalah kejadian yang hampir muncul tiap hari. Hehe.

Dengan sering bermain dengan saudaranya, saya ajarkan hanif untuk "rela" membagi apa yang dia punya.

Alhamdulillah, tiap kali dia punya makanan.. dia selalu ingat saudaranya, tanpa diperintah, dia membawakan sendiri bagian makanan untuk saudaranya.
Seperti hari ini, dia dengan senang hati memberikan kue kesukaannya bagi saudaranya.

Maasyaa Allah tabarakallah.

Hari ke-6

Bbrp hari terakhir, kegiatan tertentu mengharuskan saya dan anak pergi ke mall yang ada di bandung. 
Ini adalah pembelajaran lagi bagi kami.. untuk enggak lapar mata lihat barang itu ini. Huhuhu. 

Aku dan hanif pergi ke tempat bermain khusus anak-anak. Hal ini memang sudah kami sepakati sebelumnyaaa.. 
Tapi, di dekat tempat tersebut, dijual berbagai macam tobot. 
Waduh, perasaanku mulai ga enak nih. Haha. 

Benar saja, hanif merengek minta dibelikan. Lalu saya peluk dan gendong dia agar sdkt lbh tenang. Lalu saya coba memandang wajah hanif sembari mengarahkan pandangan tepat ke matanya sambil bilang : "hanif mau tobot ya?, Coba hanif inget-inget lagi, di rumah hanif udah punya berapa tobot?"
Lalu dia terdiam, dan menjawab "hanif punya 2"
Akupun tanya lagi, "trus emgny hanif mau punya berapa banyak lagi?"

Alhamdulillah. hanif lgsg memberi respon "jangan banyak-banyak ya bu?" 
Akupun jawab iya, karena nanti mubazir.. bisa jadi semuanya ga dimainkan.. 

Kami pun berlalu melewati toko mainan tersebut. 
Setidaknya dia tau kalau semua hal bisa dia dapatkan.

Hari ke-5

Suatu hari aku, ayah, dan hanif berbelanja bersama.
Seperti biasa, kami berkeliling ke tiap lorong belanja (hal yang bikin suami menunjukkan ekspresi jengkel.hehe)..

Jadi sebetulnya melatih anak cerdas finansial merupakan pelatihan diri sendiri.
Masa ke anak segala diatur, kitanya ga bisa ngatur diri.. malu akutuuu.

Nah momen pelatihan cerdas finansial ini sangat diuji ketika masuk supermarket. Hehe.

Atas kritik dan saran suami, aku diajarkan untuk menulis list kebutuhan dalam catatan di hp ataupun di secarik kertas.
Lalu, akupun sangat dilarang untuk tergiur terhadap promo2 yang ada, kalau ternyata item tersebut ga dibutuhkan.

Hal itupun berlaku bagi hanif,
Kami membuat kesepakatan. Dia mau beli apa. Kalau sudah beli barang yang disepakati, maka tidak boleh memilih item lain. Agar kami sama2 bisa menekan keinginan dan lebih memikirkan mana yang dibutuhkan.

Hari ke-4

Akhir-akhir ini, hanif selalu ingin lengket banget sama saya dan ayahnya, lebih dari biasanya.

Tiap kali saya ataupun ayahnya brgkt keluar rumah, hanif seringnya agak rewel atau hanya menunjukkan ekspresi tidak rela atas keberangkatan kami huhu.

Maka, pada suatu waktu, saat aku dan hanif bercengkrama, hanif bertanya "bu, naha ayah kerja wae?"
Lalu aku pun tersenyum.. sambil memandangi wajah lugunya.
Akupun mencoba menjelaskan, kalau ayah berusaha menjemput rejeki salah satunya agar bisa dpt uang. Biar bisa makan sama jajan.

Entahlah ini bener apa enggak penjelasannya hehhe.

Diberi jawaban itu, dahinya mengernyit. Tampak ketidakpuasan dari raut wajahnyaaa.
Akupun kembali menambahkan, kalau ayah bekerja biar disayang Allah. Nanti Ayah juga seneng..

Kalimat "biar disayang Allah" agaknya lebih familiar di minda nya.. sehingga saat mendengar ungkapan itu, dia pun lgsg bilang "oh"


Hari ke-3

Sudah hari ketiga mencoba mengajarkan konsep rejeki untuk hanif. 
Kali ini saya coba membantu hanif memahami apakah dia perlu ataukah memang hanya ingin. 

Sepulang dari rmh pengasuh hanif, seperti biasa kami berjalan kaki sambil berbincang.. saya tnyakan benda apa saja yang dilewati ataupun bertanya mengenai kegiatan dia bersama pengasuhnya. 

Sebelum sampai rumah, kami melewati toko yang menjual mainan dan jajanan anak. jika biasanya kami hanya lewat saja, kini hanif berdiri mematung sambil memandangi mainan2 yang menggantung di dinding toko tersebut. 

Lalu dia bilang
"Bu, hanif mau beli ultraman".
Saya tanya, "yakin mau beli? Kan hanif udah ultraman.. yang besar dan kecil. Kalau beli lagi, nanti kebanyakan ga?"

Lalu dia nampak sedang berpikir, 
Tak lama berselang... Dia mengulang ucapan saya 
"Ultraman hanif udh banyak ya? Masa beli lagi?"

Kemudian dia pun memilih membeli 1 item jajanan yang semula memang kami rencanakan. 

Alhamdulillah. Sedikit demi.sedikit dia paham kalau semua hal yang diinginkan tidak selalu yang kita butuhkan. 


hari ke-2

Hari ke 2 setelah disiapkan toples 3 S., anakku coba diberi penjelasan tentang penggunaannya.. .
dia diberi tau kalau mau beli sesuatu, dia bisa mengambil uang di toples spend. Karena anakku baru berusia 2 tahun 10 bulan, maka kemungkinan besar dia masih belum paham betul apa yang saya sampaikan. heehe..

Pada hari itu,  hanif ingin membeli cendol yang lewat depan rumah. Lalu dia otomatis meminta uang. Saya coba katakan bahwa dia bisa ambil uang yang ada d toples. Tp dia ttp tidak mau. Jadi, tetap saja saya yang harus menyerahkannya.
Dr kejadian itu, hanif msh blm paham konsepnya.. menurutku, karena mmg hanif tidak.terlalu senang jajan. Maka dia kurang familiar dengan konsep jual beli yang dia lakukan secara langsung.


Meski begitu, sy ttp semangat utk mengenalkan pd anak.
.