My Stories...

All about my stories.

Education...

Learn an shares.

Entertaiment

Music, Movie, Life Style and more.

Saturday, September 22, 2018

Lego

Akhir-akhir ini, anak saya sedang senang bermain lego.
Permainan tersebut memang membuat dia asyik bermain, namun menjadi PR bagi ibunya untuk melakukan pembiasanaan bagi dia untuk merapikan kembali mainannya.

Percobaan pertama, saya coba meminta dia untuk membereskannya sendiri.

Dia tidak merespon permintaan saya. karena dengan memberi perintah saja memang bukan merupakan salah satu kriteri komunikasi produktif.

Percoabaan kedua, saya coba memperbaiki pilihan kata dan intonasi suara saya menjadi lebih rendah dan ramah, lalu bilang "sayang, main legonya udah selesai kan? gimana kalau sebelum main mainan yang lain, kita beresin dulu mainannya."

Anak saya otomatis menjawab tidak. karena dia sedang hobi sekali mengatakan kata tersebut.

Saya lalu tersenyum, menarik nafas dan menatap matanya.

Saya sekali lagi mengajukan kalimat yang sama dan mulai mencontohkan bagaimana cara memasukkan lego ke dalam tasnya satu persatu.

Alhamdulillah, stlh bbrp detik dia masih saja mematung, akhirnya dia ingin melakukan hal yang diminta tanpa dipaksa.

#harikesepuluh 
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional 

Jangan berjanji

Saya telah membuat sebuah kesealahan besar sehari yang lalu, saya menjanjikan anak saya untuk naik kereta pada hari libur mengajar. Tanpa diduga, ternyata saya harus segera ke salah satu sekolah swasta untuk mengambil data penelitian. Hal ini otomatis membuat saya dengan berat hati harus membatalkan janji dengan anak saya.

Pelajaran yang saya peroleh saat itu adalah, anak sangat ingat janji apa saja yang pernah diucapkan orang tuanya. Saat bangun tidur, anak saya langsung menagih janji saya.
Hati emaknya hancur berkeping-keping ketika harus bilang bahwa rencananya ditunda, tidak dilakukan hari itu.

Anak saya menunjukkan ekspresi menolak dengan merengek dan bilang kereta api.
Saya mencoba berempati dengan apa yang ida rasakan. Saya lalu bilang, "sayang, pasti sedih ya ga jadi naik kereta api hari ini? maafin ibu ya.."

Anak saya tidak merengek lagi
 Lalu saya lanjut berkata bahwa sebagai gantinya, anak saya bisa ikut ke tempat saya mengajarkan tapi dengan naik angkot atau bus.

Saya katakan kepada anak saya, "Sayang, meski ga jadi naik kereta, kamu tetep boleh ikut ibu kok naik angkot".

Dia menolak.

Lalu saya beri opsi, "Sayang mau ikut ibu naik angkot atau di rumah saja dengan uwa?"

Dia pun lebih memilih tinggal di rumah.

#harikesembilan 
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional 

Membuang sampah

Membuang sampah merupakan kebiasaan yang wajib dimiliki oleh setiap orang.
Begitupun anak saya.
Saya ingin dia terbiasa membuang sampah di tempatnya. Hal ini saya terapkan dengan membiasakan langsung membuang pastik bekas jajanannya atau makanan yang dia makan ke tong sampah.

Satu waktu, anak saya membiarkan begitu saja bekas susu kotak yang dia beli. Kotak susu itu disimpan di lantai.
Lalu saya tanya, "Sayang, susunya sudah habis belum?"

Anak saya berkata iya.

Lalu saya bilang "Tolong sampah bekas susunya dibuang ke tong sampah ya"
Saya coba sesingkat dan sejelas mungkin memberi instruksi kepada anak saya. Akan tetapi sekarang hanif dalam fase menolak. Sering sekali apa yang saya tawarkan dijawab dengan "tidak".

Setelah pertolongan pertama tidak digubris, lalu saya coba terapkan pelankan suara dan menjadikannya seramah mungkin di telinga anak.

"sayang, yu kita buang sampahnya ke tong sampah, ibu bantu ambilkan kotak susunya, nanti hanif yang bawa ke dapur dan membuangnya ya?"

Alhamdulillah anak saya mau menurut melakukannya..

Tak lupa saya memujinya karena mau membuang sampah pada tempatnya.

ALhamdulillah, banyak hikmah yang diperoleh dengan menerapkan komunikasi produktif pada anak.

#harikedelapan
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional 

Gunting

Anak saya kini sedang dalam fase ingin menggunakan gunting dan pisau. 
Setiap kali memakan sesuatu yang dibungkus dengan kemasan, dia akan sangat sigap mencari gunting. 
Dia bilang, "uting... uting.. potong bungkus". 

Kesalahan saya saat itu adalah tidak menyimpan benda tajam di lemari. Tapi hanya di dalam box yang berisi berbagai macam alat tulis. anak saya sudah tahu bahwa saya selalu menaruhnya di sini. 

Kemudian dibawalah gunting tersebut dan hendak dipotong ke bungkus makanan yang td dibeli sebelumnya. 

Sebetulnya saya panik, tapi saya harus menerapkan komunikasi produktif berupa menunjukkan empati terlebih dahulu. 

Saya bilang, "Sayang, pengen tahu gimana caranya pake gunting ya? Pasti seru ya gunting-gunting plastik atau kertas. tapi ibu takut nanti km sakit karena ga sengaja kena guntingnya."

Anak saya mulai memperhatikan pembicaraan saya. Tapi tetap menggerak-gerakkan guntingnya. 

Lalu saya terapkan pola komprod selanjutnya, yaitu dengan mengganti perintah menjadi pilihan. saya bilang, "Gimana kalau kita pake guntingnya berdua, jadi nanti buka bungkus cepet"

setelah diberi opsi demikian, anak saya lebih mendengarkan apa yang saya utarakan 

#hariketujuh
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional 

Ritual malam

Momen sebelum tidur merupakan momen yang cukup menantang bagi saya. pasalnya, saat menjelang tidur, anak saya mengerluarkan jurus rengekannya untuk memperoleh perhatian saya.

Diawali dengan ingin minum, makan, main.. keinginan-keinginan ini kemudian beriringan dengan tangisan yang tak jarang sangat tidak sebentar. Saat  ditanya alasan keinginannya apa? Anak sayasegera menjawab ingin minum. tapi saat saya membawakan minumannya, mendadak seolah tidak mau.

Setelah observasi beberapa hari,  saya mengambil kesimpulan bahwa keinginan ingin makan dan minum semata untuk memperoleh suasana hati kami yang buruk. Maka saya sampaikan pada  anak saya, "Sayang, hanif boleh kok minta minum atau makan. tapi kalau mau bobo, jangan minta dulu, karena nanti perut hanif terlalu kenyang. Nanti perutnya gendut".

Setelah melakukan observasi dan menyampaikan keinginan saya, komunikasi saat kami hendak tidur kini dinilai lebih produktif. Karena hanif jawab iya. Meski, tak tahu apakah akan bertahan pada malam selanjutnya atau tidak.
 
#harikeenam
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional 

Friday, September 14, 2018

Child's reaction depends on parents' response

Masih berkaitan dengan hal di post sebelumnya.
Anak saya sering berteriak dan menangis kalau ingin melakukan sesuatu.

Pernah saat saya sedang pegang hp karena membalas chat tentang hal yang memang harus segera dibalas. Anak saya terus berteriak da menangis. Seolah protes saya pegang hp. Saya kemudian menjawab;
"Ssst jangan ribut." My bad :(

Anak saya berteriak makin menjadi dan melempar mainan.
Saya keukeuh  membalas chat karena saya pikir hanya beberapa detik lagi dan memang dalam hitungan kurang dari satu menit, saya sudah selesai membalas pesan tersebut.

Namun, saat saya menoleh ke anak, raut kecewa nampak di wajahnya.

Saya pun mendekati anak saya, memeluk sejenak, dan duduk d hadapannya sambil memandang matanya. Saya mengatakan:
"Nak, maafin ibu ya.. Ibu nyuekin hanif beberapa menit. Dan ibu jadi teriak ya ke hanif."

anak saya diam..

Saya tanya apakah dia sedih dan kesal.

Saya bilang dia boleh mengutarakan kekesalan dan kesedihannya, tapi tidak dengan melempar mainan. Lalu saya peluk dan cium hanif.

#hari5
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Langkah kecil berdampak besar

"aaaa.. Ibu... cucaaah.."

Teriakan dari kamar tiba-tiba terdengar..


Akhir-akhir ini anak saya sering sekali berteriak dan menangis untuk mendapatkan perhatian dari saya. Setelah saya merenung sejenak, akhir-akhir ini saya memang sedang menghadapi banyak deadline di tempat kerja di ranah publik. Tak jarang, saya pun memasang wajah kesal dan menanggapi dengan intonasi suara yang tidak ramah ke telinga anak. So sad :( 

Setelah saya menyadari hal ini, saya mencoba menata kembali apa yang selama ini jadi pemicu kelabilan emosi. Saya coba cicil semua pekerjaan yang belum selesai di tempat kerja- tidak membawanya ke rumah. Saya pun mencoba diam dulu d kamar ketika belum siap menyapa anak. Tarik napas dalam, lalu keluarkan. Set wajah seramah mungkin. Baru saya berani bertemu anak. 


Usaha yang saya lakukan tersebut merupakan usaha kecil yang berdampak sangat besar terhadap produktifitas komunikasi antara saya dengan anak. Semenjak menerapkan hal itu, anak saya kini kembali ceria. Meski masih beberapa kali mudah menangis, tapi kini membaik. Alhamdulillah..


#hari4
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional



KISS

Beberapa hari yang lalu, saat saya sedang mencuci piring, saya baru ingat ternyata ada cangkir bekas minum hanif yang masih berada di kamar.. Cangkir tersebut memang ditempatkan di sana saat hanif ingin minum saat malam...

Karena saat itu tangan saya sangat licin, maka saya perlu bantuan seseorang untuk membawakan cangkir itu. Pada saat itu saya hanya berdua saja dengan hanif.

Saya mencoba menerapkan salah satu ilmu tentang komprod. yaitu dengan memberi informasi berupa instruksi yang pendek dan sederhana.

Maka saat itu saya bilang.
"Hanif, punten ambil gelas yang ada di kamar ya?"

Hanif berpikir beberapa saat lalu beranjak dari tempatnya.. Beberapa saat kemudian, Hanif datang dengan membawa gelas yang saya perintahkan tadi.

ternyata memang memberi instruksi yang pendek dan sederhana (KISS: Keep information short and simple) sangat bermanfaat bagi komunikasi ibu dan anak.

#hari3
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Friday, September 7, 2018

The Power of BISA

Jumat, 7 September 2018. 




Menjadi ibu yang bekerja di ranah publik merupakan salah satu hal yang menantang bagi saya.
Salah satu konsekuensi yang harus siap diterima adalah ketika ada 'drama' acapkali terjadi saat pamit keluar rumah. Tak jarang Hanif merengek tak mau ditinggal.

Seperti beberapa minggu lalu. Saya yang harus kembali berangkat ke kampus karena ada beberapa kegiatan, mulai harus merelakan waktu bersama Hanif dan meminta saudara untuk menemani dan menjaganya. Saat itu, tanpa ada kata apapun, saya tinggalkan Hanif di rumah. Bahkan pernah Hanif ditinggalkan diam-diam. He did not even know that I left him for several hours. So cruel.

Sejak saat itu, saya meyakini bahwa cara yang dilakukan itu tidak adil dan ada yang harus diperbaiki. Ya. cara saya berkomunikasi saat hendak pergi keluar rumah yang harus diperbaiki. Saya harus berempati pada keadaan Hanif yang sedih ditinggal. Maka, setiap pagi sebelum ditinggal, saya selalu berusaha menebak apa yang Hanif rasakan dan selalu saya bahasakan atau diungkapkan.

Saya bilang, "Hanif sedih ya ibu pergi keluar rumah?".
"Maafin ibu ya. Insyaa Allah Hanif bisa kok ditinggal ibu hari ini. Nanti Hanif main ya sama enin."

lewat kalimat itu saya coba memberi sugesti dengan bilang BISA.

Ajaibnya, semenjak saya selalu bilang gtu sebelum tidur dan saat pagi, Hanif tidak pernah merengek lagi saat ditinggal pergi. Saya semakin yakin bahwa anak sangat paham apa yang orang lain sampaikan.
Asalkan kita mengutarakannya dengan jelas, intonasi yang pas, dan suara yang ramah.

Alhamdulillah, betapa komunikasi produktif itu sangat bermanfaat bagi kelangsungan ketentraman saya dan anak dalam menjalin chemistry...

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Thursday, September 6, 2018

I just need your full attention.

Kamis, 06-09-2018


Malam ini, saya sedang melakukan salah satu pekerjaan yang harus segera diselesaikan, hanya sebentar. Oleh karena itu, Selama pengerjaan ini, Hanif bersama ayahnya. Namun nampaknya hanif masih ingin ditemani ibunya. Hanif mulai membuka lemari buku dan mengambil salah satu buku favoritnya. 

Saat saya tengah terhanyut dalam bacaan, Hanif mulai berteriak "ini apa?". hmm.. volume teriakannya itu hampir sepadan dengan suara komandan upacara saat upacara bendera di Istana Merdeka.. *ibunya hanif mulai lebay* . 

Telah larut dalam kerjaan, saya cuma noleh terus jawab pertanyaan yang Hanif tanyakan. Saya bilang "itu komodo". Lalu lanjut melihat layar laptop. 

Hanif kemudian  melontarkan pertanyaan serupa, dengan nada bombastis yang sama seperti sebelumnya.. 

Saya sadar kalau saya sudah mengabaikan Hanif dengan menjawab pertanyaannya tanpa ada kontak mata dan ekspresi yang dia harapkan. Meskipun sebetulnya saya sudah menjawab pertanyaannya... 

Aaah.. saatnya mempraktikkan ilmu komunikasi produktif yang baru saja didapat.. 

Saya matikan laptop. 
Tarik nafas. 
Pasang raut muka menyenangkan dengan senyum lebar. 

Lalu mengajukan pertanyaan: "Hanif mau baca buku bareng ibu ya?" 
Dengan intonasi yang tenang sambil melakukan kontak mata. 

Hanif jawab iya..

Maka saya lanjutkan kegiatan hanif dengan  memeluknya sambil diceritakan isi buku yang dipilihnya. 

Alhamdulillah..
diingatkan kembali bahwa betapa intonasi suara dan bahasa tubuh merupakan dua poin penting dalam berkomunikasi dengan anak. 
Sedangkan ternyata suara hanya menyumbangkan 7% untuk efektitas komunikasi produktif. 


Saya jadi sadar bahwa sepanjang apapun ceramah kita untuk anak, tidak akan berdampak apa-apa bagi anak. 
sedangkan apabila kita memperhatikan intonasi suara kita dan seluruh anggota tubuh kita terlibat dalam komunikasi itu, akan lebih bermakna bagi anak. 


Mungkin jika anakku sudah mulai lancar membahasakan emosinya, dia akan bilang: 
"I just need your full attention, mom!"

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional