Jumat, 7 September 2018.
Menjadi ibu yang bekerja di ranah publik merupakan salah satu hal yang menantang bagi saya.
Salah satu konsekuensi yang harus siap diterima adalah ketika ada 'drama' acapkali terjadi saat pamit keluar rumah. Tak jarang Hanif merengek tak mau ditinggal.
Seperti beberapa minggu lalu. Saya yang harus kembali berangkat ke kampus karena ada beberapa kegiatan, mulai harus merelakan waktu bersama Hanif dan meminta saudara untuk menemani dan menjaganya. Saat itu, tanpa ada kata apapun, saya tinggalkan Hanif di rumah. Bahkan pernah Hanif ditinggalkan diam-diam. He did not even know that I left him for several hours. So cruel.
Sejak saat itu, saya meyakini bahwa cara yang dilakukan itu tidak adil dan ada yang harus diperbaiki. Ya. cara saya berkomunikasi saat hendak pergi keluar rumah yang harus diperbaiki. Saya harus berempati pada keadaan Hanif yang sedih ditinggal. Maka, setiap pagi sebelum ditinggal, saya selalu berusaha menebak apa yang Hanif rasakan dan selalu saya bahasakan atau diungkapkan.
Saya bilang, "Hanif sedih ya ibu pergi keluar rumah?".
"Maafin ibu ya. Insyaa Allah Hanif bisa kok ditinggal ibu hari ini. Nanti Hanif main ya sama enin."
lewat kalimat itu saya coba memberi sugesti dengan bilang BISA.
Ajaibnya, semenjak saya selalu bilang gtu sebelum tidur dan saat pagi, Hanif tidak pernah merengek lagi saat ditinggal pergi. Saya semakin yakin bahwa anak sangat paham apa yang orang lain sampaikan.
Asalkan kita mengutarakannya dengan jelas, intonasi yang pas, dan suara yang ramah.
Alhamdulillah, betapa komunikasi produktif itu sangat bermanfaat bagi kelangsungan ketentraman saya dan anak dalam menjalin chemistry...
#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
Friday, September 7, 2018
The Power of BISA
7:14 AM
No comments
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment